Sentra penanaman sagu di dunia adalah Indonesia dan Papua Nugini, yang diperkirakan luasan budi daya penanamannya mencapai luas 114.000 ha dan 20.000 ha. Sedangkan luas penanaman sagu sebagai tanaman liar untuk kedua negara tersebut diperkirakan mencapai 2.000.000 ha. Adapun sentra penanaman tanaman sagu di Indonesia adalah Irian Jaya, Maluku, Riau, Sulawesi Tengah dan
Kalimantan.
Tanaman sagu (Metroxylon sagu Rottb.) merupakan jenis tanaman palma yang tumbuh di sekitar rawa dan lahan tergenang air di daerah tropis. Tanaman ini mempunyai nilai penting karena merupakan tanaman pangan penghasil pati paling produktif (15- 25 ton pati kering/hektar/tahun) dan penggunaan pati sagu dalam bidang industri yang sangat beragam (Flach, 1997). Kandungan pati terdapat di dalam batang tanaman dewasa. Selain dijadikan sebagai bahan makanan, pati sagu juga dimanfaatkan dalam bidang industri seperti bioetanol, sirup berkadar fruktosa tinggi, plastik terurai-hayati, dan bahan perekat (Flach, 1997).
MANFAAT TANAMANa) Pelepahnya dipakai sebagai dinding atau pagar rumah.
b) Daunnya untuk atap.
c) Kulit atau batangnya merupakan kayu bakar yang bagus.
d) Aci sagu (bubuk yang dihasilkan dengan cara mengekstraksi pati dari umbi atau empulur batang) dapat diolah menjadi berbagai makanan.
e) Sebagai makanan ternak.
f) Serat sagu dapat dibuat hardboard atau bricket bangunan bila dicampur semen.
g) Dapat dijadikan perekat (lem) untuk kayu lapis.
h) Apabila rantai glukosa dalam pati dipotong menjadi 3-5 rantai glukosa (modifief starch) dapat dipakai untuk menguatkan daya adhesive dari proses pewarnaan kain pada industri tekstil.
i) Dapat diolah menjadi bahan bakar metanol-bensin.
Panen
Ciri Dan Umur PanenPanen dapat dilakukan mulai umur 6-7 tahun, atau bila ujung batang mulai membengkak disusul keluarnya selubung bunga dan pelepah daun berwarna putih
terutama pada bagian luarnya. Tinggi pohon 10-15 m, diameter 60-70 cm, tebal kulit luar 10 cm, dan tebal batang yang mengandung sagu 50-60 cm. Ciri pohon sagu siap panen pada umumnya dapat dilihat dari perubahan yang terjadi pada daun, duri, pucuk dan batang.
Cara Panena) Dilakukan pembersihan untuk membuat jalan masuk ke rumpun dan pembersihan batang yang akan dipotong untuk memudahkan penebangan dan pengangkutan hasil tebangan.
b) Sagu dipotong sedekat mungkin dengan akarnya. Pemotongan menggunakan kampak/mesin pemotong (gergaji mesin).
c) Batang dibersihkan dari pelepah dan sebagian ujung batangnya karena acinya rendah, sehingga tinggal gelondongan batang sagu sepanjang 6-15 meter. Gelondongan dipotong-potong menjadi 1-2 meter untuk memudahkan pengangkutan. Berat 1 gelondongan adalah ±120 kg dengan diameter 45 cm dan tebal kulit 3,1 cm.
Periode PanenPemanenan kedua dilakukan dengan jangka waktu ± 2 tahun.
Prakiraan ProduksiPerkiraan hasil yang paling mendekati kenyataan pada kondisi liar dengan produksi
40-60 batang/ha/tahun dengan jumlah empulur 1 ton/batang, dengan kandungan aci
sagu 18,5%, dapat diperkirakan hasil per hektar per tahun adalah 7-11 ton aci sagu kering. Secara teoritis, dari satu batang pohon sagu dapat dihasilkan 100-600 kg aci sagu kering. Rendemen total untuk pengolahan yang ideal adalah 15%.
PASCAPANENPengumpulana) Gelondongan yang telah dipotong dapat langsung dibawa ke parit/sumber air terdekat, kemudian langsung ditokok/diekstraksi.
b) Atau gelondongan dialirkan lewat kanal lalu dihalau/dihanyutkan menuju tempat pengolahan.
c) Sagu-sagu yang dihanyutkan ditangkap dengan jala-jala yang diletakkan pada sebuah ban pengangkut barang.
d) Ban tersebut akan membawa gelondongan ke pabrik.
e) Kalau ada jalan darat yang memadai, pengangkutan menggunakan truk atau gerobak.
Pengambilan Aci Sagua) Cara Maluku:
1. Potongan pohon sagu dibelah dua.
2. Belahan pohon sagu ditokok dengan suatu alat yang disebut "nani". Caranya empulur ditetak-tetak sedikit demi sedikit dari salah satu ujung sampai ke pangkalnya. Empulur dijaga jangan sampai kering.
3. Hasil tokokan empulur yang disebut "ela", dikumpulkan, kemudian disaring.
4. Di tempat penyaringan, ela disiram dengan air bersih, maka aci akan keluar bersamaan dengan air siraman, selanjutnya disaring dalam "goti".
5. Air siraman ela yang diperoleh, diendapkan. Hasil endapan dipisahkan dari air yang sudah mulai jernih, sehingga diperoleh aci sagu basah.
6. Aci sagu dimasukkan dalam "tumang" atau "tappiri" (suatu wadah dari batang sagu), untuk disimpan atau diproses lebih lanjut.
b) Cara Fabrikasi:
Semua pabrik pengambil empulur mengguankan pemarut silinder yang
disambungkan pada motor, sedangkan di Serawak digunakan pemarut Cakera
(dari Jerman) yang besar. Setelah diperoleh “ela”, lalu diproses menjadi zat
tepung seperti pengambilan pati yang dilakukan pabrik tapioka biasa, yaitu
dengan menggunakan sistem pemisah zat tepung dari ampas secara sentrifugal.
Kapasitas produksi pabrik tersebut berkisar antara 1-10 pokok/hari.
Pemutihan Aci Sagu1. Dibuat larutan kaporit 3%, caranya 300 gram kaporit dilarutkan dalam 10 liter air bersih.
2. Aci sagu dimasukkan dalam larutan kaporit dengan perbandingan 1 bagian tepung 2 bagian larutan kaporit.
3. Larutan diaduk sampai homogen, kira-kira selama 1 menit, kemudian diendapkan dan didiamkan selama 1/2 jam.
4. Cairan bening yang terdapat pada bagian atas tepung dikeluarkan dan ditampung pada ember lain, cairan ini masih dapat digunakan untuk mencuci 2-3 kali lagi.
5. Netralkan aci sagu tersebut dengan memasukkan air bersih dalam aci lalu diaduk sampai rata kira-kira selama 1 menit.
6. Sebelum larutan aci dalam ember tenang, larutan itu segera disaring lalu diendapkan. Cairan bagian atas dibuang kemudian ditambah air lagi, diaduk, diendapkan, cairan bening dibuang. Pekerjaan ini diulang 3-4 kali sampai bau kaporit hilang.
7. Aci sagu yang sudah tampak putih dan tidak berbau kaporit segera dikeringkan pada para-para yang dialasi plastik, sampai kering.
http://www.ristek.go.id