Kamis, 19 Mei 2011
PASCAPANEN HORTIKULTURA
TEKNOLOGI PEMBUATAN PATI SAGU DENGAN AIR GAMBUT DAN PENGOLAHAN SAGU MENJADI ANEKA PRODUK
oleh: Fahroji
Pendahuluan
Sagu (Metroxylon sp.) merupakan komoditas tanaman pangan sumber karbohidrat yang sangat potensial di Indonesia. Indonesia memiliki area sagu terluas di dunia, diikuti oleh Papua Nugini. Jenis patinya pun beragam dari putih hingga kemerahan, sesuai dengan varietasnya. Potensi produksi sagu tidak kalah dengan sumber karbohidrat lain. Produksi pati sagu mencapai 2-3 t/ha/tahun.
Di Riau, sagu dikonsumsi dalam bentuk sagu gabah, sagu rendang, sagu embel, laksa sagu, kue bangkit, sagu obor dsb. Namun semakin lama konsumsi sagu semakin menurun. Ada anggapan bahwa sebagai pangan pokok, sagu berada diposisi yang lebih rendah dibandingkan dengan beras atau bahan pangan lain. Hal ini merupakan tantangan bagi pengembangan sagu di Indonesia. Produk olahan sagu perlu dikembangkan sedemikian rupa sehingga sesuai dengan selera masyarakat.
Ekstraksi pati sagu di Riau menggunakan air gambut. Air gambut adalah air permukaan atau air tanah yang banyak terdapat di daerah pasang surut, berawa dan dataran rendah, berwarna merah kecoklatan, berasa asam (tingkat keasaman tinggi), dan memiliki kandungan organik tinggi. Hal ini menyebabkan mutu pati sagu yang dihasilkan rendah terutama pada warna pati yang tidak putih. Oleh karena itu diperlukan perlakuan khusus sehingga diperoleh pati sagu yang berkualitas.
Pati sagu merupakan hasil ekstraksi empulur pohon sagu yang sudah tua (berumur 8-16) tahun. Komponen terbesar yang terkandung dalam sagu adalah pati.
Tabel 1. Komposisi Pati Sagu
Pengolahan Air Gambut
Proses Pengolahan
Tahapan proses pengolahan air gambut terdiri dari beberapa tahap yaitu :
1. Netralisasi
Netralisasi adalah mengatur keasaman air agar menjadi netral (pH 7 - 8). Untuk air yang bersifat asam misalnya air gambut, yang paling murah dan mudah adalah dengan pemberian kapur/gamping. Fungsi dari pemberian kapur, disamping untuk menetralkan air baku yang bersifat asam juga untuk membantu efektifitas proses selanjutnya.
2. Aerasi
Aerasi yaitu mengontakkan udara dengan air baku agar kandungan zat besi dan mangan yang ada dalam air baku bereaksi dengan oksigen yang ada dalam udara membentuk senyawa besi dan senyawa mangan yang dapat diendapkan. Disamping itu proses aerasi juga berfungsi untuk menghilangkan gas-gas beracun yang tak diinginkan misalnya gas H2S, methan, karbon dioksida dan gas-gas racun lainnya.
3. Koagulasi
Koagulasi adalah proses pencampuran bahan kimia kedalam air agar kotoran dalam air yang berupa padatan tersuspensi misalnya zat warna organik, lumpur halus bakteri dan lain-lain dapat menggumpal dan cepat mengendap. Cara yang paling mudah dan murah adalah dengan penambahan tawas/alum (berupa kristal berwarna putih).
Pengendapan kotoran dapat terjadi karena pembentukan alumunium hidroksida, Al(OH)3 yang berupa partikel padat yang akan menarik partikel - partikel kotoran sehingga menggumpal bersama-sama, menjadi besar dan berat dan segera dapat mengendap. Cara penambahan tawas dapat dilakukan sebagai berikut yaitu : sejumlah tawas/ alum dilarutkan dalam air kemudian dimasukkan kedalam air baku lalu diaduk dengan cepat hingga merata selama kurang lebih 2 menit. Setelah itu kecepatan pengadukkan dikurangi sedemikian rupa sehingga terbentuk gumpalan - gumpalan kotoran akibat bergabungnya kotoran tersuspensi yang ada dalam air baku. Setelah itu dibiarkan beberapa saat sehingga gumpalan kotoran atau disebut flok tumbuh menjadi besar dan berat dan cepat mengendap.
4. Pengendapan
Setelah proses koagulasi air tersebut didiamkan sampai gumpalan kotoran yang terjadi mengendap semua (45 - 60 menit). Setelah kotoran mengendap air akan tampak lebih jernih. Endapan yang terkumpul didasar tangki dapat dibersihkan dengan membuka kran penguras yang terdapat di bawah tangki.
5. Penyaringan
Pada proses pengendapan, tidak semua gumpalan kotoran dapat diendapkan semua. Butiran gumpalan kotoran dengan ukuran yang besar dan berat akan mengendap, sedangkan yang berukuran kecil dan ringan masih melayang-layang dalam air. Untuk mendapatkan air yang betul-betul jernih harus dilakukan proses penyaringan. Penyaringan dilakukan dengan mengalirkan air yang telah diendapkan kotorannya ke bak penyaring yang terdiri dari saringan pasir.
Peralatan
Peralatan yang digunakan terdiri dari tong, pengaduk, pompa aerasi, dan saringan dari pasir. Kegunaan dari masing-masing peralatan adalah sebagai berikut:
Tong/Tangki Penampung
Terdiri dari drum plastik dengan volume 220 liter. Drum tersebut dilengkapi dengan dua buah kran yaitu untuk mengalirkan air ke bak penyaring dan untuk saluran penguras. Pada dasar drum sebelah dalam diplester dengan semen sehingga berbentuk seperti kerucut untuk memudahkan pengurasan. Selain itu dapat juga menggunakan tangki fiber glass volume 550 liter yang dilengkapi dengan kran pengeluaran lumpur. Tong atau tangki penampung dapat juga dibuat dari bahan yang lain misalnya dari tong bekas minyak volume 200 liter atau dari bahan gerabah. Fungsi dari drum adalah untuk menampung air baku, untuk proses aerasi atau penghembusan dengan udara, untuk proses koagulasi dan flokulasi serta untuk pengendapan.
Pompa Aerasi
Pompa aerasi terdiri dari pompa tekan (pompa sepeda) dengan penampang 5 cm, tinggi tabung 50 cm. Fungsi pompa adalah untuk menghembuskan udara kedalam air baku agar zat besi atau mangan yang terlarut dalam air baku bereaksi dengan oksigen yang ada dalam udara membentuk oksida besi atau oksida mangan yang dapat diendapkan. Pompa tersebut dihubungkan dengan pipa aerator untuk menyebarkan udara yang dihembuskan oleh pompa ke dalam air baku. Pipa aerator terbuat dari selang plastik dengan penampang 0.8 cm, yang dibentuk seperti spiral dan permukaannya dibuat berlubang-lubang, jarak tiap lubang 2 cm.
Bak Penyaring
Bak Penyaring terdiri dari bak plastik berbentuk kotak dengan tinggi 40 cm dan luas penampang 25 X 25 cm serta dilengkapi dengan sebuah keran disebelah bawah. Untuk media penyaring digunakan pasir, kerikil, arang dan ijuk. Susunan media penyaring media penyaring dari yang paling dasar keatas adalah sebgai berikut :
Lapisan 1: kerikil atau koral dengan diameter 1-3 cm, tebal 5 cm.
Lapisan 2: ijuk dengan ketebalan 5 cm.
Lapisan 3: arang kayu, ketebalan 5-10 cm.
Lapisan 4: kerikil kecil diameter 5 mm, ketebalan 5 cm.
Lapisan 5: pasir silika, diameter 0,5 mm, ketebalan 10-15 cm.
Lapisan 6: kerikil, diameter 3 cm, tebal 3-6 cm.
Diantara Lapisan 4 dan 5, dan Lapisan 5 dan 6, dapat diberi spons atau kasa plastik untuk memudahkan pada waktu melakukan pencucian saringan.
a. Pipa Aerator b. Penampang Saringan Pasir
Bahan Kimia
Bahan kimia yang diperlukan antara lain : tawas, kapur tohor dan kaporit bubuk.
Cara Pembuatan
1. Masukkan air baku kedalam tangki penampung sampai hampir penuh (550 liter).
2. Larutkan 60 - 80 gram bubuk kapur / gamping (4 - 6 sendok makan) ke dalam ember kecil yang berisi air baku, kemudian masukkan ke dalam tangki dan aduk sampai merata.
3. Masukkan slang aerasi ke dalam tangki sampai ke dasarnya dan lakukan pemompaan sebanyak 50 - 100 kali. setelah itu angkat kembali slang aerasi.
4. Larutkan 60 - 80 gram bubuk tawas (4 - 6 sendok makan) ke dalam ember kecil, lalu masukkan ke dalam air baku yang telah diaerasi. Aduk secara cepat dengan arah yang putaran yang sama selama 1 - 2 menit. Setelah itu pengaduk diangkat dan biarkan air dalam tangki berputar sampai berhenti dengan sendirinya dan biarkan selama 45 - 60 menit.
5. Buka kran penguras untuk mengelurakan endapan kotoran yang terjadi, kemudian tutup kembali.
6. Buka kran pengeluaran dan alirkan ke bak penyaring. Buka kran saringan dan usahakan air dalam saringan tidak meluap.
7. Tampung air olahan (air bersih) dan simpan ditempat yang bersih.
Pembuatan Pati Sagu
1. Pengupasan. Batang sagu dikupas untuk membuang kulit luar yang keras.
2. Pemarutan. Batang sagu yang telah dikupas kulitnya diparut halus menjadi bubur sagu. Jika batang yang ditangani cukup banyak, batang diparut dengan mesin pemarut.
3. Pembuatan larutan sulfit. Natrium bisulfit dilarutkan ke dalam air. Setiap 1 liter air ditambah dengan 3 gram natrium bisulfit. Larutan yang telah diperoleh disebut larutan sulfit. Larutan sulfit dapat dibuat dengan biaya murah dengan cara mengalirkan gas SO2 ke dalam air. Gas SO2 tersebut dibuat dengan membakar belerang (S atau sulfur).
4. Penambahan larutan sulfit dan pengadukan. Bubur hasil pemarutan ditambah larutan sulfit (1 bagian bubur ditambah degan 1 bagian air) sehingga menjadi bubur encer. Bubur encer ini diaduk-aduk agar pati lebih banyak yang terlepas dari sel batang. Jika bubur cukup banyak, pengadukan dilakukan denga alat pengaduk mekanis.
5. Penyaringan suspensi pati. Bubur sagu disaring dengan kain saring sehingga pati lolos dari saringan sebagai suspensi pati, dan serat tertinggal pada kain saring. Suspensi pati ditampung pada wadah pengendapan. Penyaringan juga dapat dilakukan dengan mesin penyaring mekanis.
6. Pengemdapan pati. Suspensi pati dibiarkan mengendap di dalam wadah pengendapan selama 12 jam. Pati akan mengendap sebagai pasta. Cairan diatas endapan dibuang.
7. Pengeringan. Pasta pati dijemur diatas tampah, atau dikeringkan dengan alat pengering sampai kadar air dibawah 14%. Produk yang telah kering akan gemerisik bila diremas-remas. Hasil pengeringan ini disebut dengan tepung kasar.
8. Penggilingan. Tepung kasar selanjutnya ditumbuk atau digiling sampai halus (sekurang-kurangnya 80 mesh) menjadi tepung sagu.
9. Pengemasan.Tepung sagu dapat dikemas didalam karung plastik atau kotak kaleng dalam keadaan tertutup rapat.
Pengolahan Sagu menjadi Aneka Produk
Pembuatan Mie Basah
Sekitar 10% dari total sagu dipakai untuk binder, sedangkan sodium tripoliphospat (STTP) ditambahkan sebesar 0,3% dari total sagu yang diolah menjadi mie. Binder dibuat dengan cara sebagai berikut: pati sagu, , STTP dan air dicampur kemudian dimasak sampai kental sambil terus diaduk. Selanjutnya pati sagu ditambahkan ke dalam binder sambil terus diaduk. Pengadukan dilakukan secara mekanis dengan bantuan molen atau secara manual hingga terbentuk adonan kalis. Adonan mie tersebut kemudian dicetak dan direbus ± 1 menit atau sampai mengapung. Mie dipindahkan ke bak berisi air dingin mengalir dan dan dibiarkan ± 15 menit. Mie ditiriskan dan dilumuri minyak agar tidak lengket. Mie kemudian dikemas.
| Pati sagu 20 g, air 150 ml, STTP 0,6 g |
| Dimasak sampai kental |
| binder |
| Dimasak sampai kalis |
| Pencetakan mie |
| Pemasakan ± 1 menit (sampai mengapung |
| Perendaman ± 15 menit |
| penirisan |
| pencampuran |
| Mie sagu |
| Pati sagu 180 g |
| minyak |
Mie sagu Kering
Teknik pembuatan mie sagu basah dapat dimodifikasi untuk mendapatkan mie sagu kering. Adonan yang keluar dari cetakan diatur sedemikian rupa sehingga helaian mie tidak menumpuk dan dipotong kira-kira 20 cm. Mie dikukus selama 2 menit kemudian dikeringkan dengan alat pengering sekitar 2 jam pada suhu 40-50oC. Selanjutnya mie dikemas (100 g per kemasan), yang dilengkapi dengan bumbu siap saji.
Kue Bangkit
Bahan A :
500 gr tepung sagu
1 sdt baking powder
1/2 sdt soda kue
Campur semua bahan
Bahan B :
250 ml santan
100 gr gula merah
50 gr gula pasir
Masak semua bahan hingga larut, dinginkan
Bahan C :
3 btr Telur
50 gr Gula Pasir
· Kocok telur dan gula hingga larut, masukkan bahan B.
· Masukkan campuran bahan C + B ke bahan A, aduk rata.
· Gilas adonan setebal 0,5 cm, cetak.
· Oven kurang lebih 60 menit dengan suhu 140o C.
Kerupuk Sagu
Bahan
a. Tepung Sagu.
b. Udang kering.
c. Bawang Putih.
d. Garam
e. Minyak goreng.
Cara Pembuatan
1) Penyiapan Bumbu
Komposisi. Mula-mula disediakan bumbu dengan jumlah sebagai berikut : 30-50 gram bawang putih, 50-75 gram udang kering, dan 10-20 gram garam untuk setiap 1 kg tepung sagu.
Penyiapan bumbu:
a. Bawang putih digiling halus bersama garam.
b. Udang kering dijemur atau dikeringkan (kadar air 6%). Udang dapat juga disangrai sampai kering. Udang yang telah kering tersebut digiling sampai halus berupa tepung udang.
c. Tepung udang dicampur dengan bawang putih yang telah digiling halus. Campuran ini diaduk sampai rata. Campuran ini disebut dengan bumbu kerupuk.
2) Pembuatan Biang Kerupuk
a. Pencampuran dengan bumbu kerupuk. Tepung sagu dibagi dua, yaitu bagian A (1/3 bagian) dan bagian B (2/3 bagian). Bagian A dicampur dengan air dan bumbu kerupuk. Setiap 1 kg tepung sagu dicampur dengan 1,7 liter air. Campuran tersebut diaduk sampai rata.
b. Pemasakan. Campuran di atas dimasak sambil diaduk sampai menjadi lem kental. Hasil pemasakan ini disebut dengan biang kerupuk.
3) Pembuatan Adonan
a. Pembuatan adonan. Biang kerupuk dicampur sedikit demi sedikit dengan tepung sagu bagian B sambil diaduk dan diulen sampai menjadi adonan yang homogen, tidak lengket di tangan.
b. Pembentukan adonan. Adonan dibentuk menjadi silinder dengan panjang 20-25 cm dan diameter 4-5 cm. Adonan yang berbentuk silinder ini disebut dengan dodolan.
4) Pengukusan Dodolan
Dodolan dikukus selama 1-2 jam sampai bagian dalamnya matang. Hasil yang diperoleh disebut dengan dodolan matang.
5) Pendinginan Dodolan
Dodolan matang didinginkan dan dibiarkan selama 24 jam di suhu ruang kemudian di dalam lemari pendingin, juga selama 24 jam sehingga dodol mengeras dan mudah dipotong yang disebut dengan dodolan matang keras.
6) Pengirisan dan Pengeringan Kerupuk Basah
a. Dodolan matang keras diiris tipis-tipis (ketebalan 2 mm) dengan pisau atau dengan mesin pengiris sehingga diperoleh kerupuk basah.
b. Kerupuk basah diangin-anginkan selama 12 jam, kemudian dijemur atau dikeringkan dengan alat pengering sehingga kadar airnya 8-10 liter dengan tanda mudahnya kerupuk dipatahkan.
7) Penyimpanan
Kerupuk kering dapat dikemas di dalam kantong plastik, kotak plastik atau kotak kaleng.
8) Penggorengan
Kerupuk mentah digoreng di dalam minyak goreng panas dalam keadaan terendam pada suhu 170°C selama 10-20 detik sambil dibalik-balik.
Referensi
Eri, I.R dan W. Hadi. 2009. Kajian Pengolahan Air Gambut Menjadi Air Bersih dengan Kombinasi Proses Upflow Anaerobic Filter Dan Slow Sand Filter. Jurusan Teknik Lingkungan FTSP- ITS
Haliza, W dan E.S Iriani. 2008. Revitalisasi Diversifikasi Konsumsi Pangan Pokok Kasawan Timur Indonesia. Dalam Teknologi Pengolahan untuk Penganekaragaman Konsumsi Pangan. Bogor: BB Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian
Hasbullah. 2001. TTG Pengolahan Pangan Kerupuk Sagu. http://www.iptek.net.id/ind/warintek/?mnu=6&ttg=6&doc=6b21
Kusnaedi. 2006. Mengolah Air Gambut dan Air Kotor untuk Air Minum. Jakarta: Penebar
Swadaya
Purwani, E.Y, dkk. 2006. Teknologi Pengolahan Mie Sagu. Bogor: BB Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian
Richana Nur, dkk. (2000). Karakterisasi Bahan Berpati (Tapioka, Garut dan Sagu) dan Pemanfaatannya Menjadi Glukosa Cair. (396 - 406). Dalam: Prosiding Seminar Nasional Industri Pangan. Vol. I. Surabaya: PATPI
Said, N.I, H. Indriatmoko, N. Raharjo, A. Herlambang. tanpa tahun. Pengolahan Air Sungai / Gambut Sederhana. http://www.kelair.bppt.go.id/Sitpa/Artikel/Gamb